cat-right

Pengelolaan Sampah di Indonesia

Sampah merupakan masalah yang umum terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Yogyakarta dan Semarang. Sampah diidentifikasi sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya eksternalitas negatif terhadap kegiatan perkotaan.  Pengelolaan sampah di Indonesia masih menggunakan paradigma lama: kumpul-angkut-buang. Source reduction (reduksi mulai dari sumbernya) atau pemilahan sampah tidak pernah berjalan dengan baik. Meskipun telah ada upaya pengomposan dan daur ulang, tapi masih terbatas dan tidak sustainable.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta mengatakan kondisi volume timbulan sampah di DKI mencapai 6.594,72 ton per hari per Januari 2009. Dengan rumusan, jumlah penduduk Jakarta 8,7 juta jiwa (malam hari) di tambah jumlah penduduk commuter 1,2 juta kali 2,97 liter per hari.

PREDIKSI TIMBULAN SAMPAH

DKI JAKARTA 2010 – 2020

Tahun

Jumlah Penduduk (jiwa)

Jumlah Timbulan Sampah (m3/hari)

2010

2015

2020

10.931.207

11.603.010

12.316.101

29.624

31.676

33.869

Berkaitan dengan sistem pengelolaan persampahan, dasar pengelolaan mesti mengedepankan pada minimasi sampah dan pemanfaatan sampah sebagai sumber energi. Keberhasilan penanganan sampah tersebut juga harus didukung oleh tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi mengingat perilaku masyarakat merupakan variable penting.

Kebijaksanaan pengelolaan persampahan seyogyanya memiliki landasan kuat agar sampah yang dihasilkan dapat dikelola dengan baik. Kebijakan dapat dilakukan meliputi penurunan senyawa beracun yang terkandung dalam sampah sejak pada tingkat produksi, minimasi jumlah sampah, peningkatan daur ulang sampah, pembuangan sampah yang masih memiliki nilai energi dikurangi secara signifikan, dan pencemaran lingkungan dicegah sedini mungkin.

Berdasarkan landasan tersebut, kebijaksanaan pengelolaan sampah antara lain meliputi pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah secara mandiri, pengelolaan sampah dengan menggunakan sanitary landfill yang sesuai dengan ketentuan standar lingkungan, dan pengembangan teknologi tinggi pengolahan sampah untuk sumber energy.

Proses Pelaksanaan Pengelolaan Persampahan

Sebagian besar sampah kota yang dihasilkan di Indonesia tergolong sampah hayati. Rata-rata sampah yang tergolong hayati ini adalah di atas 65 % dari total sampah. Melihat komposisi dari sumber asalnya maka sebagian besar adalah sisa-sisa makanan dari sampah dapur, maka jenis sampah ini akan cepat membusuk, atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini, dan berpotensi pula sebagai sumberdaya penghasil kompos, metan dan energi.

Dari sedikit gambaran sampah tersebut, kita dapat menelaah dan membuat suatu rangkaian proses bagaimana sampah yang dihasilkan dapat di kelola menjadi sampah yang lebih ramah lingkungan dan bahkan dimanfaatkan lagi untuk kegunaan yang lain. Berikut adalah poin-poin penting dalam pengelolaan sampah dan rangkaian pembuangan sampah yang ideal:

Peningkatan Kapasitas Teknis

1. Pemilahan

  • Pemilahan dari sumber dihasilkannya sampah yang terdiri dari sampah organik dan anorgainik
  • Pemilihan sampah yang masih memiliki sumber energi tinggi
  • Pemanfaatan kembali sampah yang memiliki resources bernilai tinggi

2. Pewadahan

  • Pewadahan individual disediakan di tingkat rumah dengan menyediakan 2 unit penampungan sampah terdiri dari sampah organic dan anorganik
  • Pewadahan komunal (container atau TPS) khusus untuk menampung berbagai jenis sampah baik organik maupun anorganik seperti untuk sampah plastik, gelas, kertas, pakaian/tekstil, logam, sampah besar (bulky waste), sampah B3 (batu baterai, lampu neon, dll) dan lain-lain.

3. Pengumpulan

  • Waktu pengumpulan door to door  setiap 1 sampai 2 hari
  • Waktu pengumpulan sampah dari TPS 1 x seminggu

4. Pengangkutan

  • Pengumpulan sampah  dengan compactor truck berbeda untuk setiap jenis sampah.

5. Daur Ulang

Contoh kegiatan daur ulang adalah antara lain adalah :

  • Pemanfaatan kembali kertas bekas yang dapat digunakan terutama untuk keperluan eksternal
  • Plastik bekas diolah kembali untuk dijadikan sebagai bijih plastik untuk dijadikan berbagai peralatan rumah tangga seperti ember dll
  • Peralatan elektronik bekas dipisahkan setiap komponen pembangunnya (logam, plastik/kabel, baterai dll) dan dilakukan pemilahan untuk setiap komponen yang dapat digunakan kembali
  • Gelas/botol kaca dipisahkan berdasarkan warna gelas (putih, hijau dan gelap) dan dihancurkan

6. Composting

  • Composting dilakukan secara manual atau semi mekanis baik untuk skala individual, komunal maupun skala besar (di lokasi landfill).
  • Pembuatan lubang biopori yang berfungsi upaya composting juga dan sebagai lubang resapan air.

7. Biogas

  • Sampah organik sebagian diolah dengan alat digester sebagai energi (gas bio).
  • Pemanfaatan gas bio antara lain untuk district heating, energi listrik, dan kompor untuk memasak.

8. Incinerator

  • Incinerator komunal dengan kapasitas minimal per unitnya 500 ton per hari.
  • Energi panas dari incinerator digunakan untuk district heating (T 50 – 70 derajat Celcius) dan supplai listrik (20 – 40 % pasokan listrik berasal dari incinerator).
  • Emisi gas dari Incinerator sesuai dengan ketentuan standar kualitas udara termasuk komponen dioxin.

9. Landfill

  • Landfill di fasilitasi oleh sarana utama dan saran penunjang yang lengkap
  • Pemadatan sampah mencapai kepadatan 700 – 800 ton/m3
  • Penutupan tanah harian dengan geo textile
  • Penutupan tanah intermediate memanfaatkan sisa konstruksi bangunan
  • Penutupan tanah akhir dilakukan dengan sangat ketat dan mencapai ketebalan 2 – 10m
  • Pengolahan gas dilengkapi dengan gas regulator, pompa pengisap gas, alat deteksi gas, turbin, boiler dan lain-lain.
  • Pengolahan lindi (leachate) dilakukan dengan aerator atau oxidation pond
  • Efluennya harus dialirkan ke pipa sewerage yang menuju instalasi pengolahan air limbah (IPAL)

Peningkatan Kapasitas Peran Serta Masyarakat dan Swasta
1. Peran Masyarakat

Diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat yang tinggi dalam pengelolaan sampah. Upaya yang dilakukan meliputi :

  • Masyarakat memiliki kesadaran untuk mengurangi jumlah sampah dari sumbernya
  • Masyarakat memiliki kesadaran (willingness to pay) yang tinggi terhadap biaya pengelolaan sampah
  • Masyarakat merasa bangga dapat menjaga lingkungan tetap bersih

2. Peran Swasta

  • Diperlukan peran serta swasta dalam pengelolaan sampah (pengumpulan/pengangkutan, incinerator, daur ulang, landfill, dll) yang dilakukan dengan professional, transparan dan accountable.
  • Diperlukan perangkat kebijakan dalam pengelolaan sampah oleh swasta seperti kemudahan dalam memenuhi ketentuan dan adanya intensif yang menarik dari pemerintah terhadap swasta yang melakukan bisnis pengolahan sampah.
  • Adanya kompetisi yang sehat dalam memenangkan tender dan kualitas pekerjaan yang sangat baik (tidak ada KKN).

Peningkatan Kapasitas Kebijakan

Kebijakan penanganan sampah diperlukan scenario, jangka waktu dan target yang jelas. Seperti Swedia berencana pengurangan sampah sebesar 70 % pada tahun 2015. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan energi sampah semaksimal mungkin. Berbeda dengan konsep kebijakan persampahan di Indonesia yang tidak memiliki skenario, jangka waktu dan target yang jelas.
Peningkatan kapasitas Kelembagaan

  • Diperlukan adanya pemisahan peran stakeholder antara pembuat kebijakan dan operator.
  • Diperlukan peran Pemerintah (Pusat maupun kota) yang lebih dominan sebagai pembuat kebijakan dan fasilitator.
  • Kemampuan SDM yang handal dan profesional dalam sistem pengelolaan sampah merupakan modal yang kuat dalam menentukan keberhasilan program kebersihan di swedia, untuk itu diperlukan upaya serius dalam meningkatkan kualitas SDM.

Peningkatan Kapasitas Keuangan

  • Retribusi yang dibebankan kepada masyarakat dibayarkan per tahun dengan nilai yang sesuai dengan jumlah sampah yang dihasilkan
  • Insentif diberikan kepada mereka yang secara signifikan dapat mengurangi jumlah sampah (untuk kompos maupun daur ulang).
  • Pendapatan dari retribusi 100 % dikembalikan untuk biaya pengelolaan sampah melalui kontrak dengan pihak swasta.

Peningkatan Kapasitas Peraturan

Peraturan yang dibuat oleh Pemerintah yang berkaitan dengan ketentuan pengelolaan sampah harus realistis, sistematis dan menjadi acuan dalam pelaksanaan penanganan sampah di lapangan baik oleh pihak pengelola maupun masyarakat.

Penulis: E. Kurniawan

Editor: Yasir N



13 Responses to “Pengelolaan Sampah di Indonesia”

  1. wahyu mengatakan:

    Saya hanya mau menanyakan untuk no.8 tentang incinerator parameter untuk emisi gas buangnya yang ideal apa saja ya Pak Kurniawan.
    Terima kasih.

  2. Dony Redy mengatakan:

    Permasalahan lingkungan hidup adalah hal yang perlu diatasi secara bersama baik antara pemerintah sebagai pelaku kebijakan dan masyarakat sebagai komponen utama. Sampah memang barang yang sangat menjengkelkan. Namun melalui pengelolaan sampah yang baik akan menghsilkan barang-barang eknomis yang tinggi dan kreatif.Faktor manusia pun juga akan lebih baik, demikian pula dengan kesejahteraan. Masyarakat akan memiliki kegiatan positif berkaitan dengan pemberdayaan sampah.
    If we do hard and seriously, absolutely we will get a good mark……….

  3. nico mengatakan:

    saya nico valerie. saya tinggal di belanda. Dan ada family saya yang bergerak di bidang daur ulang sampah di belanda dan kami masih kekurangan banyak sampah untuk kami daur ulang . Dan saya sebagai rakyat indonesia senang bila sampah itu lenyap dari bumi pertiwi. Saya mohon bantuan teman- teman semua untuk memberitahu saya di mana kami bisa membeli sampah.
    salam,
    nico

  4. salikun mengatakan:

    soal sampah saja kok ruuuuuuuwet sekali yaaaa,kok cari cara yg.mudah dan sangat muuuudah,sebelum saya mohon maaf,saya termasuk pelaku mengatasi sampah yg.tdk.sedikit dan tergolong sampah berat,1.pasar,50 warung dan juga sampah warga bbrp.dusun,dgn.1 alat pemusnah uk.2×2 m,cukup sampah teratasi dan tidak pernah reeeeepot.Kalo bisa saran saya carikan yg.mudah biar masy.tidak terbebani,toh petugas tentunya melaks.tugasnya.

  5. hari mengatakan:

    to Nico :
    saya mengelola sampah di pasar tradisional dan kami mengalami kesulitan dalam mengolah sampah yang dihasilkan mencapai +/- 10 ton per hari. kami mengalami kesulitan karena terbatasnya sumber daya yang kami miliki, saat ini kami coba untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair dan sedang kami uji coba pada tanaman padi. jika tertarik hub : harim122000@yahoo.com

  6. Patti mengatakan:

    Sampah domestik mucul karena banyak perumahan maupun apartment yang dibangun dengan ijin yang juga mudah… seharusnya… developer perumahan dan apartment, diwajibkan memiliki sistem pengelolaan sampah bagi perumahan dan apartment yang dibangunnya. Sehingga masyarakat yang akan tinggal di perumahan atau apartment tersebut sudah terpola. Bila terjadi pengelolaan sampah yang tidak sesuai sistem yang diajukan developer… developernya nanti kena denda, demikian juga masyarakat sekitarnya kena denda…
    Sampah itu mahal dampaknya….
    saat ini saya dan keluarga berusaha mengelola sampah di lingkungan keluarga kami, dengan membuang samapah pada tempatnya dimanapun kami berada, kami bertanggung jawab atas amapah yang kami hasilkan. Dan memilah sampah organik dengan anorganik. Yang organik, kami serahkan ke pemulung, yang anorganik, kami kubur atau kami bakar pada sore hari.
    Ini hanya sebuah pemikiran…Semoga nanti akan ada perusahaan pengelola sampah secara profesional seperti di negara-negara maju. Amin..

  7. Pretty mengatakan:

    Dear All,

    Company tempat saya bekerja (multinational FMCG company) mencari Waste Management Manager, yang sangat mengerti mengenai waste. Boleh minta advisenya jika ada mailing list/web yang kami bisa coba? Sehingga teman-teman peduli lingkungan mendapatkan informasinya.

    Terima kasih.

  8. Ahmad Dede Agus mengatakan:

    to: kak Hari

    kak,gimana dah berhasil belum uji coba sampah organik yang di berikan pada tanaman padi??

    Terima kasih.

  9. susana mengatakan:

    Pak Kurniawan, saya sedang menulis skripsi tentang sampah .. Apakah data di atas boleh saya tampilkan di skripsi saya sebagai Data dari Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta
    Ada referensinya tidak?

    Sebelumnya terima kasih

  10. susana mengatakan:

    Pak Kurniawan, di artikel Bapak tertulis 6.594,72 ton per hari per Januari 2009

    Itu data volume timbulan sampah perhari ?

  11. salikun mengatakan:

    Diatas ada komenttar saya,ini saya tambahkan,cara-2 apapun dan berjumlah berapapun sekarang bisa tahu hasilkan,dan bila belum memuaskan memang cara-2 tsb.menurut saya kurang mengarah,soal sampah saja dimana-mana sepertinya suuuulit skali,sebagemana benyak saya informasikan cara saya mengatasi sampah yg.bukti sudah banyak skali,tidak ada satupun yg.tidak berhasil,semuanya berhasil,bahkan para penanggung sampah dari luar negri saja merespon,kagum dan ingin memiliki cara yg.saya lakukan,sekarang semua saja para penanggung sampah bila ingin betul-2 berhasil dlm.mengatasi soal sampah pakek cara saya,kurang paham saya siap membantu sebagemana yg.sudah saya bantu tidak lagi ada persoalan dengan sampah,yg.bersikeras tidak mau dan mempertahankan konsep-2 nya mari kita lihat umeknya dengan persoalan sampah yg.tidak menemukankeberhasilan,mau ke luar negri,lha luar negri aja ingin mengikuti cara saya malah akan dikulak,tapi gak papa sambil nglencer.Mhn.maaf bila agak hangat maksud dantujuan utamanya para pembaca yg.punya tanggungan soal sampah buka teknologi pemusnah sampah,itulah cara yg.saya lakukan TIDAK PERNAH GAGAL.

  12. salikun mengatakan:

    untuk sekarang semua sudah tahu ttg.hasilnya dari segala macem cara yg.jumlahnya ratusan macem,smpah-2 dimana-mana sangat membludak ditambah musim hujan yg.jelas sangat mengganggu lingkungan oleh pandangan yg.jelek,bau sangat menusuk dsb.Menurut saya cara yg.paleng tepat dan mesti berhasil(buka) teknologi pemusnah sampah.cara/alat sederhana tanpa bahan bakar apapun sampah yg.kendisinya basah/busuk skalipun musnah menjadi abu,yg.abunya dapat sebage penyubur tanah,Trima kasih salam dari Mojokerto.

  13. salikun mengatakan:

    begitu banyaknya teori toh sudah berjalan sekian tahun eee,sampahnya makin tak terkendali,bagemana nantinya ke depan dapat dipastikan tambah membludak.Bila saja dengan cara seperti komentar saya diatas yg.jelas dan pasti segala sampah sudah teratasi tidak seperti sekarang ini.bila berkenan(buka) teknologi pemusnah sampah.teima kasih.

Leave a Reply